2026-09-11
Jika Terdiagnosis Diabetes, Periksakan Mata Terlebih Dahulu — Penglihatan Normal Bukan Berarti Retina Anda Baik-baik Saja
Penglihatan normal tidak menjamin retina terbebas dari kerusakan diabetes. Kenali pentingnya skrining funduskopi sejak dini sebelum retinopati diabetik memicu komplikasi penglihatan permanen.


Pertama-tama, mari tenangkan pikiran Anda terlebih dahulu.
Menderita diabetes bukan berarti mata Anda pasti akan memburuk.
Faktanya, sebagian besar pasien yang terdeteksi mengalami retinopati diabetik masih berada pada stadium awal. Pada tahap ini, banyak kasus yang cukup ditangani dengan mengontrol kadar gula darah dan melakukan pemantauan berkala tanpa memerlukan tindakan medis khusus.
Namun, ada satu hal penting yang berbeda: prinsip "baru ke dokter jika merasa terganggu" sama sekali tidak berlaku untuk retinopati diabetik.
Hal ini disebabkan penglihatan baru akan menurun setelah sebagian besar retina telah mengalami kerusakan.
Oleh karena itu, pemeriksaan untuk penyakit ini harus dijadwalkan berdasarkan kalender, bukan menunggu timbulnya gejala.
Panduannya sangat jelas.
Bagi penderita diabetes tipe 2, pemeriksaan mata pertama harus dilakukan pada hari diagnosis ditegakkan. Bagi penderita diabetes tipe 1, pemeriksaan dianjurkan dalam kurun waktu 5 tahun setelah diagnosis, dan selanjutnya rutin dilakukan minimal satu tahun sekali
(Portal Informasi Kesehatan Nasional Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea).
Namun, bagaimana realitasnya di lapangan?
Berdasarkan studi dari Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional Korea (KNHANES) 2016–2021 yang menganalisis 3.717 pasien diabetes berusia 40 tahun ke atas, hanya 1.109 orang (29,5%) yang menjalani pemeriksaan funduskopi dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Tingkat keikutsertaan pemeriksaan ini bahkan tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan selama kurun waktu 6 tahun
(Kim MS, Park SJ, Joo K, Woo SJ, Journal of Korean Medical Science, 2024).

Halo, kami dari Klinik Mata St. Mary Jin.
Hari ini, kami akan merangkum secara mendalam berdasarkan bukti medis mengenai apa yang sebenarnya terjadi di dalam bola mata saat retinopati diabetik berlangsung, kapan dan seberapa sering pemeriksaan harus dilakukan, serta sejauh mana pengobatan dapat membantu dan apa batasannya.
[Daftar Isi]
Apa sebenarnya retinopati diabetik itu?
Mengapa sering kali tidak bergejala?
Kapan dan seberapa sering harus memeriksakan diri?
Pemeriksaan apa saja yang dilakukan di klinik?
Bagaimana pembagian stadiumnya?
Apa itu edema makula diabetik?
Apakah mengontrol gula darah benar-benar melindungi mata?
Benarkah penglihatan bisa memburuk jika gula darah turun drastis?
Bagaimana penanganannya? Bisakah penglihatan kembali normal?
Segera periksakan diri ke dokter hari ini juga jika mengalami gejala berikut
Masalah mata lain akibat diabetes
Tanya Jawab (FAQ)
1. Apa sebenarnya retinopati diabetik itu?

Retina adalah lapisan saraf tipis yang melapisi bagian dalam belakang bola mata.
Ibarat klise film pada kamera, lapisan film ini menerima pasokan oksigen dan nutrisi dari jaringan pembuluh darah kapiler yang sangat halus.
Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang akan merusak pembuluh darah mikro ini terlebih dahulu. Urutan kerusakannya biasanya sebagai berikut:
Dinding pembuluh darah kapiler melemah sehingga terbentuk tonjolan kecil (mikroaneurisma).
Komponen darah mulai merembes keluar dari dinding tersebut. Pada foto fundus, tampak perdarahan bintik (dot hemorrhage) dan eksudat keras (bercak kekuningan terang akibat pengendapan lipid).
Sebagian pembuluh darah tersumbat sepenuhnya, menyebabkan area retina tersebut kekurangan oksigen (iskemik).
Retina yang kekurangan oksigen akan melepaskan zat sinyal kimiawi (VEGF) yang merangsang pembentukan pembuluh darah baru.
Merespons sinyal tersebut, pembuluh darah baru (neovaskularisasi) mulai tumbuh. Namun, pembuluh darah abnormal ini terbentuk secara terburu-buru, berdinding rapuh, dan sangat mudah pecah.
Jika sudah sampai pada tahap ini, komplikasi serius dapat terjadi sewaktu-waktu.
Pecahnya pembuluh darah baru memicu perdarahan vitreous yang membuat lapang pandang tiba-tiba gelap gulita. Selain itu, membran fibrosa yang tumbuh di sepanjang pembuluh darah baru dapat menarik retina, menyebabkan ablasi retina traksional.
Bila pembuluh darah baru ini tumbuh hingga ke saluran pembuangan cairan di bagian depan mata (sudut bilik mata depan), kondisi ini dapat berkembang menjadi glaukoma neovaskular yang penanganannya sangat kompleks dan sulit.
Retinopati diabetik pada dasarnya bukan sekadar "penyakit mata lokal", melainkan manifestasi awal dari kerusakan pembuluh darah sistemik di seluruh tubuh.
Retina adalah satu-satunya area di tubuh manusia di mana kita dapat mengamati pembuluh darah secara langsung tanpa tindakan pembedahan.
Oleh karena itu, selembar foto fundus mata bertindak layaknya jendela yang memperlihatkan kondisi kesehatan pembuluh mikro di seluruh tubuh Anda.
2. Mengapa sering kali tidak bergejala?
Pertanyaan ini merupakan inti terpenting dari artikel ini.
Pertama, retina tidak memiliki reseptor saraf nyeri. Tidak ada rasa sakit meskipun kerusakan retina sedang berlangsung.
Kedua, lesi tahap awal umumnya muncul di bagian perifer (tepi) retina.
Kemampuan melihat yang kita sebut sebagai "ketajaman penglihatan" hampir sepenuhnya diatur oleh makula, area sangat kecil di pusat retina. Meskipun terdapat puluhan mikroaneurisma di retina perifer, selama makula masih sehat, hasil tes ketajaman penglihatan tetap dapat mencapai 1.0 (normal 20/20).
Ketiga, kedua mata saling mengompensasi.
Jika satu mata mengalami masalah, mata yang lain akan menutupi kekurangan tersebut, sehingga sering kali pasien tidak menyadarinya sampai mereka secara tidak sengaja menutup salah satu mata.
Situasi klinis seperti ini sangat sering kami temui:
Seorang pasien dengan ketajaman penglihatan 1.0 sudah memiliki beberapa titik perdarahan dan eksudat pada foto fundusnya. Sebaliknya, pasien yang datang dengan keluhan "mata mulai buram" ternyata telah mengalami edema makula atau perdarahan vitreous.
Pada kasus retinopati diabetik, ketajaman penglihatan adalah indikator yang paling lambat merespons kerusakan.
Laporan dari Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea juga menyoroti fenomena serupa.
Pada KNHANES 2017, prevalensi retinopati diabetik pada pasien diabetes usia 40 tahun ke atas mencapai 19,6%, namun hanya 23,5% dari mereka yang menjalani pemeriksaan funduskopi untuk deteksi komplikasi
(Portal Informasi Kesehatan Nasional Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea).
Artinya, tanpa pemeriksaan rutin, penyakit ini akan berkembang tanpa disadari sama sekali.
Jumlah pasien di Korea Selatan pun terus mengalami kenaikan.
Menurut analisis data KNHANES, prevalensi diabetes pada populasi usia 40 tahun ke atas meningkat dari 13,2% pada tahun 2008 menjadi 17,3% (sekitar 4,98 juta jiwa) pada tahun 2020. Di antara penderita diabetes tersebut, prevalensi retinopati diabetik meningkat dari 16,6% menjadi 24,6% (sekitar 1,23 juta jiwa).
Studi yang sama memprediksi bahwa pada tahun 2040, prevalensi retinopati diabetik akan mencapai 38,8% dengan estimasi 3,15 juta pasien (Kim MS, Nam S, Lee J, Woo SJ, Journal of Korean Medical Science, 2026).
3. Kapan dan seberapa sering harus memeriksakan diri?

Kategori | Pemeriksaan Pertama | Jadwal Berkala Berikutnya |
Diabetes Tipe 2 | Hari pertama diagnosis ditegakkan | Minimal 1 tahun sekali |
Diabetes Tipe 1 | Dalam 5 tahun setelah diagnosis | Minimal 1 tahun sekali |
Rencana Hamil / Sedang Hamil | Saat merencanakan dan trimester pertama | Minimal tiap 3 bulan sekali |
Jika Sudah Terdiagnosis Retinopati | Segera | Tiap 3–6 bulan sekali (sesuai stadium) |
(Portal Informasi Kesehatan Nasional KDCA / American Academy of Ophthalmology, Diabetic Retinopathy Preferred Practice Pattern)
Mengapa diabetes tipe 2 harus diperiksa sejak hari diagnosis?
Kadar gula darah pada diabetes tipe 2 meningkat secara perlahan, sehingga sering kali pasien sudah berada dalam kondisi hiperglikemia beberapa tahun sebelum resmi terdiagnosis.
Oleh sebab itu, tidak sedikit pasien yang sudah mengalami komplikasi retinopati saat pertama kali dinyatakan diabetes.
Sebaliknya, awitan diabetes tipe 1 biasanya terdeteksi secara jelas, sehingga diberikan kelonggaran waktu hingga 5 tahun.
Mengapa saat kehamilan harus dipantau setiap 3 bulan?
Perubahan hormon dan hemodinamik selama kehamilan dapat mempercepat progresi retinopati secara signifikan.
Oleh karena itu, sangat disarankan untuk memeriksa kondisi mata sejak merencanakan kehamilan.
Namun, diabetes gestasional yang baru muncul saat kehamilan tidak memerlukan pemeriksaan funduskopi ini
(AAO Preferred Practice Pattern).
Rekomendasi ini khusus ditujukan bagi wanita yang sudah mengidap diabetes sebelum hamil.
"Tahun lalu dokter bilang mata saya baik-baik saja" — bukan berarti tahun ini kondisi Anda tetap sama.
Alasan interval pemeriksaan ditetapkan setiap 1 tahun bukanlah jaminan "aman selama 1 tahun", melainkan karena "kondisi dapat berubah signifikan dalam waktu 1 tahun".
4. Pemeriksaan apa saja yang dilakukan di klinik?

① Uji Ketajaman Penglihatan & Refraksi — Menentukan batas acuan ketajaman penglihatan terkoreksi untuk bahan evaluasi komparatif pada kunjungan berikutnya.
② Pemeriksaan Funduskopi — Tahap krusial di mana sebagian besar diagnosis retinopati ditegakkan.
Obat tetes pelebar pupil (midriatikum) diberikan untuk melihat keseluruhan retina secara komprehensif.
Dokter akan menilai stadium dengan mengidentifikasi mikroaneurisma, titik perdarahan, eksudat, area infark vaskular, dan neovaskularisasi.
③ Optical Coherence Tomography (OCT) — Menampilkan penampang melintang makula hingga skala mikrometer.
Pemeriksaan ini non-kontak, tanpa rasa sakit, dan selesai hanya dalam hitungan detik.
Alat ini mendeteksi edema makula (akumulasi cairan di makula) secara presisi, yang sulit dinilai hanya dengan foto fundus biasa, bahkan sebelum ketajaman penglihatan pasien menurun.
④ Angiografi OCT (OCTA) — Menghasilkan visualisasi lapisan pembuluh darah retina tanpa suntikan zat kontras.
Memungkinkan penilaian perluasan zona avaskular fovea dan deteksi dini pertumbuhan pembuluh darah baru.
⑤ Angiografi Fluoresens (FAG) — Jika diperlukan, zat kontras disuntikkan melalui vena lengan untuk melacak titik kebocoran dan area sumbatan pembuluh darah secara akurat.
Pemeriksaan ini sangat membantu dalam memetakan area target terapi laser.
Klinik Mata St. Mary Jin dilengkapi fasilitas OCT dan OCTA mutakhir, memungkinkan evaluasi terpadu antara temuan fundus dan struktur makula secara simultan.
Hal yang perlu diperhatikan sebelum pemeriksaan:
Pemberian tetes pelebar pupil akan menyebabkan penglihatan silau dan pandangan dekat buram selama sekitar 4–6 jam.
Sangat disarankan untuk tidak mengemudikan kendaraan sendiri pada hari pemeriksaan dan bawalah kacamata hitam.
Luangkan waktu yang cukup karena proses pelebaran pupil membutuhkan waktu tunggu beberapa saat.
Obat diabetes atau insulin tetap digunakan seperti biasa.
Pemeriksaan funduskopi tidak memerlukan puasa.
Menunggu terlalu lama dalam keadaan perut kosong justru berisiko memicu hipoglikemia, sehingga lebih aman bila Anda sudah makan terlebih dahulu.
Mengetahui kadar HbA1c terbaru dan waktu awal mula terdiagnosis diabetes akan sangat membantu akurasi diagnosis kami.
5. Bagaimana pembagian stadiumnya?

Stadium | Kondisi di Dalam Mata | Gejala yang Dirasakan |
Non-Proliferatif (Ringan) | Muncul mikroaneurisma dan titik perdarahan minor | Hampir tidak ada gejala |
Non-Proliferatif (Sedang–Berat) | Area sumbatan aliran darah semakin meluas | Hampir tidak ada gejala |
Proliferatif | Pembuluh darah baru tumbuh, memicu perdarahan dan ablasi retina | Lapang pandang mendadak tertutup/gelap |
Edema Makula Diabetik | Makula menebal akibat rembesan cairan (dapat terjadi di stadium mana pun) | Huruf tampak buram, garis lurus tampak bergelombang |
Poin paling krusial pada tabel di atas terletak pada dua baris pertama.
Baik pada stadium awal maupun berat non-proliferatif, penderita hampir tidak merasakan keluhan apa pun.
Inti pesan dari tabel ini adalah: "merasa tidak ada gejala" sama sekali tidak berarti "kondisi mata aman".
Selain itu, edema makula dapat berkembang secara independen tanpa memandang stadium.
Pasien pada stadium non-proliferatif awal bisa saja mengalami penurunan tajam penglihatan akibat edema makula. Sebaliknya, pasien retinopati proliferatif tingkat lanjut bisa saja tetap memiliki visus 1.0 jika makulanya belum terpengaruh.
Itulah sebabnya foto fundus dan pemindaian OCT wajib dilakukan bersamaan.
6. Apa itu edema makula diabetik?
Edema makula adalah penyebab penurunan tajam penglihatan yang paling sering ditemukan pada pasien retinopati diabetik.
Ketika cairan merembes dari pembuluh darah yang rusak dan menumpuk di area makula, retina akan membengkak dan menebal.
Kondisinya serupa dengan permukaan klise foto yang menggelembung dan rusak karena basah tersiram air.
Akibatnya, tulisan menjadi kabur, garis lurus tampak melengkung, serta kontras warna menurun.
Ciri khasnya adalah pandangan buram yang tidak membaik meski telah mencoba mengganti kacamata baru.
Retinopati proliferatif merusak penglihatan secara "mendadak", sedangkan edema makula menurunkannya secara "perlahan".
Perubahan drastis biasanya membuat pasien langsung bergegas ke rumah sakit, namun pandangan yang mengabur perlahan kerap diabaikan dan dianggap sekadar faktor penuaan atau mata lelah, sehingga penanganan sering kali terlambat.
Gejala distorsi visual (garis tampak bengkok) juga bisa menyerupai degenerasi makula. Karena penanganannya sangat berbeda tergantung penyebabnya, jangan pernah mendiagnosis diri sendiri dan segera lakukan pemeriksaan medis.
7. Apakah mengontrol gula darah benar-benar melindungi mata?

Ya, bukti ilmiah untuk hal ini sangat kuat dan tidak terbantahkan.
Diabetes Tipe 1:
Dalam uji klinis berskala besar DCCT pada 1.441 pasien, kelompok terapi intensif yang mempertahankan gula darah mendekati normal selama rata-rata 6,5 tahun mengalami penurunan risiko timbul atau memburuknya retinopati hingga 76% dibandingkan kelompok terapi konvensional
(DCCT Research Group, New England Journal of Medicine, 1993 / DCCT/EDIC Research Group, Diabetes, 2015).
Diabetes Tipe 2:
Pada studi UKPDS 33 terhadap 3.867 pasien, kelompok terapi intensif mempertahankan median HbA1c sebesar 7,0%, sementara kelompok terapi konvensional berada di angka 7,9%.
Hasilnya, komplikasi mikrovaskular turun sebesar 25% (RR 0,75, 95% CI 0,60–0,93), dan risiko kebutuhan terapi fotokoagulasi laser retina berkurang hingga 29% (RR 0,71, 95% CI 0,53–0,96)
(UK Prospective Diabetes Study Group, The Lancet, 1998).
Namun, dua hal berikut perlu dipahami bersama:
Pertama, manfaat protektif ini terakumulasi secara bertahap selama bertahun-tahun.
Menurunkan HbA1c sebesar 0,5% pada bulan ini tidak akan langsung memperbaiki penampakan fundus mata di bulan depan. Dengan kata lain, pengendalian gula darah Anda saat ini adalah investasi untuk menyelamatkan penglihatan Anda 5 hingga 10 tahun ke depan.
Kedua, ini bukan semata-mata masalah gula darah saja.
Pengendalian tekanan darah, profil lipid, serta berhenti merokok harus berjalan beriringan. Pemeriksaan mata juga wajib diperketat jika fungsi ginjal mulai menurun, karena kerusakan pembuluh kapiler pada mata dan ginjal terjadi melalui mekanisme patologis yang identik.
8. Benarkah penglihatan bisa memburuk jika gula darah turun drastis?
Kekhawatiran ini bukan mitos belaka, namun bukan pula alasan untuk menunda pengendalian gula darah Anda.
Pertanyaan ini sangat sering diajukan, berikut rincian bukti ilmiahnya:
Berdasarkan analisis lanjutan dari data studi DCCT:
Dari 1.439 pasien (711 terapi intensif, 728 terapi konvensional), perburukan sementara retinopati pada fase awal terapi terjadi pada 13,1% pasien kelompok intensif dibandingkan 7,6% pada kelompok konvensional.
Artinya, penurunan gula darah yang terlalu cepat memang terbukti dapat memicu fenomena perburukan dini (early worsening).
Namun, tindak lanjut dari data tersebut menunjukkan fakta yang sangat melegakan:
Pada bulan ke-18, sebanyak 51% pasien di kelompok terapi intensif dan 55% di kelompok terapi konvensional telah pulih kembali ke kondisi semula, dan tidak ditemukan satu pun kasus kehilangan penglihatan permanen akibat perburukan dini tersebut.
Para peneliti menyimpulkan bahwa "manfaat jangka panjang terapi insulin intensif jauh lebih besar melampaui risiko perburukan sementara di awal"
(DCCT Research Group, Archives of Ophthalmology, 1998).
Langkah bijak yang perlu Anda terapkan:
▶ Jangan pernah menunda pengendalian gula darah. Manfaat jangka panjangnya bersifat mutlak.
▶ Periksakan kondisi fundus retina sebelum memulai penurunan target gula darah secara agresif. Jika sudah terdapat retinopati tahap lanjut, dokter akan menyesuaikan kecepatan penurunan gula darah dan frekuensi kontrol mata.
▶ Pasien dengan riwayat gula darah tidak terkontrol lama yang baru memulai terapi insulin, atau menjalani bedah metabolik/bariatrik dengan penurunan glukosa drastis, disarankan menjalani observasi mata lebih sering pada tahun pertama.
Menurunkan gula darah bukanlah tindakan yang berbahaya; yang berbahaya adalah menurunkannya tanpa mengetahui kondisi awal retina Anda.
9. Bagaimana penanganannya? Bisakah penglihatan kembali normal?

Metode Terapi | Tindakan yang Dilakukan | Efek Samping / Keterbatasan |
Fotokoagulasi Panretina (Laser) | Membakar retina perifer yang iskemik untuk menghentikan neovaskularisasi | Penyempitan lapang pandang perifer, penurunan adaptasi gelap |
Injeksi Intravitreal (Anti-VEGF) | Meredakan kebocoran vaskular untuk meredam edema makula | Perlu penyuntikan berulang, risiko langka endoftalmitis |
Vitrektomi (Pembedahan) | Mengangkat darah vitreous, memotong jaringan traksi, merekatkan retina | Progresi katarak, risiko perdarahan ulang |
① Fotokoagulasi Panretina (PRP / Laser)
Terapi standar untuk retinopati diabetik proliferatif.
Dengan mengoagulasikan retina perifer yang kekurangan oksigen menggunakan laser, produksi VEGF dapat ditekan sehingga menghentikan pertumbuhan pembuluh darah baru abnormal. Terapi ini memiliki bukti ilmiah yang sangat solid.
Studi klinis awal Diabetic Retinopathy Study menunjukkan bahwa tingkat kehilangan penglihatan berat dalam 2 tahun mencapai 16,3% pada mata tanpa terapi, sedangkan pada mata yang diterapi laser hanya sebesar 6,4%.
Namun, tindakan ini memiliki kompromi.
Karena retina perifer sengaja dikorbankan, lapang pandang samping dapat menyempit dan kemampuan melihat di tempat gelap menurun.
Tujuan utama terapi ini bukan untuk mempertajam penglihatan, melainkan mengorbankan retina tepi demi menyelamatkan ketajaman penglihatan sentral Anda.
② Injeksi Anti-VEGF Intravitreal
Lini pertama penanganan edema makula diabetik.
Setelah anestesi lokal pada mata, obat disuntikkan langsung ke rongga vitreous menggunakan jarum mikro yang sangat halus. Tindakan ini berlangsung sangat singkat.
Efektivitasnya terbukti secara konsisten. Uji klinis pada 660 pasien yang membandingkan tiga jenis agen anti-VEGF menunjukkan perbaikan penglihatan rata-rata 10,0–12,8 huruf pada tahun ke-2. Pada mata dengan visus awal yang lebih buruk (≤ 20/50), perbaikannya bahkan mencapai 13,3–18,1 huruf
(Wells JA et al., Ophthalmology, 2016. DRCR.net Protocol T).
Anti-VEGF juga dapat digunakan sebagai alternatif laser pada retinopati proliferatif.
Evaluasi 5 tahun menunjukkan visus akhir yang sebanding antara kedua terapi (rata-rata 20/25), namun penyempitan lapang pandang lebih minimal pada kelompok injeksi (-330 dB vs -527 dB), kebutuhan vitrektomi lebih rendah (11% vs 19%), serta risiko edema makula lebih sedikit (22% vs 38%)
(Gross JG et al., JAMA Ophthalmology, 2018. DRCR.net Protocol S).
Namun, terapi injeksi memiliki syarat mutlak:
Suntikan tidak cukup hanya sekali, melainkan harus diulang berkali-kali selama beberapa tahun.
Jika berhenti di tengah jalan, kekambuhan bisa terjadi. Oleh sebab itu, kesiapan pasien untuk kontrol berkelanjutan menjadi parameter penting dalam menentukan pilihan terapi.
Efek samping minor meliputi perdarahan subkonjungtiva, rasa tidak nyaman, dan floaters sementara. Komplikasi serius yang sangat jarang terjadi meliputi endoftalmitis (infeksi bola mata), peningkatan tekanan intraokular, dan ablasi retina.
③ Vitrektomi
Diindikasikan apabila perdarahan vitreous tidak kunjung terserap secara spontan, atau terjadi ablasi retina akibat tarikan jaringan fibrosa.
Dokter bedah akan membersihkan darah dan jaringan parut di dalam bola mata untuk mengembalikan posisi retina ke tempat semula.
Katarak dapat berkembang lebih cepat pascaoperasi, dan terdapat kemungkinan risiko perdarahan berulang atau ablasi retina sekunder.
Laser fokal makula juga dapat dipertimbangkan pada kasus edema makula tertentu.
Studi ETDRS membuktikan bahwa terapi laser fokal pada edema makula menurunkan risiko kehilangan penglihatan derajat sedang hingga sekitar separuhnya pada tahun ke-3
(ETDRS Report No. 1, Archives of Ophthalmology, 1985).
Saat ini, injeksi anti-VEGF tetap menjadi terapi lini pertama, sedangkan tindakan laser digunakan sebagai kombinasi atau alternatif berdasarkan lokasi dan pola kelainan makula.
Empat prinsip penting yang wajib dipahami:
Pertama, terapi-terapi ini bertujuan menghentikan atau memperlambat laju kerusakan, bukan menyembuhkan penyakit secara tuntas.
Kedua, jaringan saraf retina yang sudah atrofi/mati tidak dapat dihidupkan kembali. Makula yang lapisan sarafnya telah menipis akibat edema berkepanjangan atau retina yang terlepas terlalu lama tidak akan memperoleh kembali penglihatan penuhnya meskipun bengkak teratasi atau retina berhasil ditempelkan.
Ketiga, waktu memulai pengobatan menentukan hasil akhir. Pasien dengan penglihatan yang sudah sangat buruk mungkin mengalami perbaikan angka huruf yang banyak, namun visus akhirnya jarang bisa menyamai mata yang ditangani sejak dini saat kondisinya masih baik.
Keempat, menjalani terapi bukan berarti selesai melakukan pemeriksaan. Diabetes tetap berlanjut, dan dinamika mikrovaskular retina akan terus berlangsung.
10. Segera periksakan diri ke dokter hari ini juga jika mengalami gejala berikut

Meski kami selalu menekankan "jangan menunggu muncul gejala", tanda-tanda berikut menandakan kondisi darurat yang wajib diperiksa pada hari yang sama:
Penglihatan mendadak seperti tertutup tirai hitam — indikasi perdarahan vitreous masif atau ablasi retina.
Bintik hitam melayang (floaters) bertambah banyak secara mendadak dalam kurun satu hari — pertanda awal pecahnya pembuluh darah retina.
Penglihatan pada satu sisi mata tiba-tiba menjadi buram drastis — kemungkinan akibat edema makula akut, perdarahan, atau oklusi vaskular.
Mata merah disertai nyeri hebat dan penurunan penglihatan — dicurigai lonjakan tekanan bola mata akibat glaukoma neovaskular.
Keempat kondisi di atas tidak boleh ditunda hingga jadwal kontrol berikutnya. Retinopati proliferatif dapat mengalami perburukan parah hanya dalam hitungan beberapa hari.
11. Masalah mata lain akibat diabetes
Diabetes tidak hanya merusak lapisan retina.
▶ Katarak terjadi lebih dini dan berkembang lebih cepat.
Akumulasi produk metabolisme glukosa di dalam lensa mata mempercepat kekeruhan. Pasien diabetes umumnya memerlukan operasi katarak pada usia yang lebih muda dibandingkan populasi non-diabetes.
▶ Tajam penglihatan berubah-ubah dalam hitungan hari seiring fluktuasi gula darah.
Perubahan konsentrasi gula darah mengubah hidrasi lensa kristalina, memicu perubahan kekuatan refraksi. Membuat kacamata baru saat gula darah tidak stabil akan sia-sia karena ukurannya akan segera berubah. Tunggulah hingga kadar gula darah stabil.
▶ Glaukoma Neovaskular — Pertumbuhan pembuluh darah baru abnormal hingga ke bilik mata depan dapat menyumbat aliran keluar cairan mata, menyebabkan lonjakan tekanan intraokular yang merusak saraf optik secara permanen.
▶ Sindrom Mata Kering dan Gangguan Pemulihan Kornea — Diabetes menumpulkan sensitivitas saraf kornea dan memperlambat epitelisasi luka, mempengaruhi kenyamanan penggunaan lensa kontak serta pemulihan pascaoperasi mata.
▶ Kelumpuhan Otot Bola Mata (Paresis Saraf Kranial Diabetik) — Ditandai dengan pandangan ganda (diplopia) mendadak atau kelopak mata yang turun (ptosis). Sebagian besar pulih dalam hitungan bulan, namun pemeriksaan medis komprehensif wajib dilakukan untuk menyingkirkan penyebab intrakranial lainnya.
Bila Anda berkumpul bersama orang tua:
Cobalah tanyakan tiga pertanyaan penting ini kepada mereka:
"Sudah berapa tahun Ibu/Bapak rutin minum obat diabetes?"
"Kapan terakhir kali foto kondisi bagian dalam bola mata ke dokter mata?"
"Apakah belakangan ini tulisan di koran atau ponsel tampak kabur atau bergelombang?"
Sangat mengejutkan melihat betapa seringnya kita mendengar jawaban "belum pernah periksa foto mata sama sekali" untuk pertanyaan kedua.
Momen kebersamaan keluarga adalah saat terbaik untuk saling peduli dan mengingatkan pentingnya deteksi dini kesehatan mata.
Ulasan mendalam mengenai ketajaman penglihatan anak dan miopia telah kami bahas secara rinci pada artikel sebelumnya.
12. Tanya Jawab (FAQ)
Q. Penglihatan saya masih 1.0 (normal). Apakah saya tetap harus menjalani funduskopi?
Ya, wajib.
Tes ketajaman penglihatan hanya merefleksikan kondisi makula sentral, sedangkan retinopati diabetik umumnya berawal dari area retina perifer.
Sangat sering kami menemukan banyak titik perdarahan pada foto fundus pasien yang visusnya masih 1.0 sempurna.
Pemeriksaan refraksi/visus biasa tidak dapat menggantikan pemeriksaan funduskopi.
Q. Jika kadar HbA1c terkontrol dengan sangat baik, bolehkah melewatkan jadwal periksa mata?
Tidak boleh. Kontrol glikemik yang optimal meminimalkan risiko kerusakan, namun tidak menghilangkannya secara total.
Penentuan jadwal pemeriksaan didasarkan pada durasi lamanya menderita diabetes dan kondisi struktur retina saat ini, bukan sekadar nilai gula darah sewaktu.
Jika gula darah Anda terkontrol baik, jadwal kontrol ini akan menjadi evaluasi berkala yang menenangkan hati Anda.
Q. Apakah saya dilarang mengemudi setelah menjalani pemeriksaan fundus?
Tetes pelebar pupil (midriatikum) akan menimbulkan rasa silau dan kesulitan memfokuskan pandangan selama 4–6 jam.
Mengemudikan kendaraan sendiri dalam kondisi tersebut sangat berisiko dan tidak disarankan.
Gunakan transportasi umum atau datanglah bersama pendamping. Membawa kacamata hitam akan sangat membantu meredakan silau.
Q. Apakah pemeriksaannya menimbulkan rasa sakit?
Pemeriksaan funduskopi dan pemindaian OCT sama sekali tidak menimbulkan rasa sakit.
Tetes mata midriatikum mungkin hanya menimbulkan sensasi sedikit perih sesaat.
Pemeriksaan angiografi dengan zat kontras memerlukan suntikan pada vena lengan dan dapat menyebabkan urine berwarna kekuningan pekat selama beberapa jam setelahnya.
Q. Apakah penglihatan saya akan membaik setelah menjalani terapi laser?
Tidak. Fotokoagulasi panretina bertujuan mencegah kerusakan saraf lebih lanjut, dan justru dapat menimbulkan penyempitan lapang pandang samping atau penurunan penglihatan malam.
Tindakan ini direkomendasikan karena mempertahankan penglihatan sentral jauh lebih berharga daripada membiarkan penyakit memicu kebutaan total.
Dokter akan memberikan edukasi dan penjelasan lengkap sebelum tindakan dilakukan.
Q. Jika sudah mulai disuntik obat ke dalam bola mata, apakah harus disuntik seumur hidup?
Tidak serta merta berarti seumur hidup, namun tindakan ini memang jarang selesai hanya dengan satu kali suntikan.
Biasanya terapi diawali dengan frekuensi rutin yang intensif, kemudian interval kunjungan diperpanjang bertahap sesuai respon perbaikan klinis.
Injeksi dapat dihentikan jika kondisi telah stabil, tetapi pemantauan berkala tetap harus dilanjutkan.
Q. Apakah penderita retinopati diabetik boleh menjalani bedah refraktif seperti LASIK atau LASEK?
Keputusan tergantung pada stabilitas gula darah dan kondisi retina.
Tindakan bedah refraktif tidak disarankan jika retinopati masih aktif berkembang atau kadar glukosa tidak stabil.
Meskipun LASIK/LASEK bekerja pada kornea, diabetes dapat mengganggu penyembuhan epitel dan permukaan mata. Oleh karena itu, evaluasi komprehensif pada retina dan kornea wajib dilakukan sebelum mengambil keputusan.
Q. Saya sudah melakukan foto fundus saat pemeriksaan kesehatan rutin (medical check-up). Apakah masih perlu ke spesialis mata?
Foto fundus dari MCU adalah langkah awal skrining yang baik.
Namun, skrining MCU umumnya mengambil foto non-midriatik (tanpa pelebaran pupil) sebanyak 1–2 sudut saja, sehingga tepi retina perifer dan struktur lapisan dalam makula tidak terlihat secara utuh.
Bawalah hasil medical check-up tersebut ke klinik kami; dokter spesialis mata kami akan mengevaluasinya dan menentukan apakah pemeriksaan lanjutan dengan OCT diperlukan.
Informasi medis dan visualisasi lebih lengkap seputar kesehatan mata dapat Anda saksikan melalui kanal YouTube Resmi Klinik Mata St. Mary Jin, 'Jjin Eye'.
Kesimpulan
Ingatlah tiga hal mendasar ini:
Pertama, penyakit ini dipantau berdasarkan kalender jadwal, bukan menunggu munculnya keluhan.
Diabetes tipe 2: periksa sejak hari diagnosis; diabetes tipe 1: periksa dalam 5 tahun pertama; selanjutnya rutin minimal setahun sekali.
Kedua, penglihatan yang masih tajam hanya menunjukkan bahwa makula Anda belum terkena.
Kesehatan jaringan retina secara menyeluruh hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan fundus secara langsung.
Ketiga, penanganan medis berfungsi untuk menghentikan laju kerusakan, bukan memutar balik waktu.
Itulah sebabnya waktu awal memulai tindakan sangat menentukan hasil akhir penglihatan Anda.
Sebagian besar retinopati diabetik yang ditemukan pada stadium awal dapat dikendalikan dengan aman hanya melalui observasi dan manajemen gula darah yang baik.
Langkah preventif terbaik yang dapat Anda lakukan hari ini adalah melakukan selembar pemeriksaan foto fundus mata.
Lakukanlah sekarang, selagi Anda belum merasakan keluhan apa pun.
Silakan hubungi kami kapan saja bila ada hal yang ingin Anda konsultasikan.
Klinik Mata St. Mary Jin
Lantai 1, 4, 5, 337 Gangnam-daero, Seocho-gu, Seoul (Seocho-dong 1329-10)
5 menit jalan kaki dari Stasiun Gangnam Pintu Keluar 5 · Tersedia parkir gratis di gedung
Jam Pelayanan Medis:
Hari Kerja: 09:00 ~ 18:00 (Istirahat siang 13:00 ~ 14:00)
Sabtu: 09:00 ~ 15:00 (Tanpa istirahat siang)
Tutup pada hari Minggu dan Hari Libur Nasional
Telepon: 02-577-7782
※ Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi informasi medis umum dan tidak menggantikan diagnosis atau terapi medis individual.
Angka statistik yang dikutip berasal dari kelompok populasi studi terkait; hasil klinis dapat bervariasi tergantung durasi diabetes, kepatuhan kontrol glikemik, penyakit penyerta sistemik, dan rejimen obat masing-masing individu.
Setiap tindakan medis memiliki keterbatasan efektivitas serta risiko efek samping. Penentuan strategi diagnosis dan terapi wajib dikonsultasikan langsung bersama dokter spesialis mata dan dokter spesialis penyakit dalam yang merawat Anda.
[Referensi Ilmiah]
Kim MS, Park SJ, Joo K, Woo SJ. Trends and Barriers in Diabetic Retinopathy Screening: Korea National Health and Nutritional Examination Survey 2016–2021. Journal of Korean Medical Science. 2024;39(27):e203
Kim MS, Nam S, Lee J, Woo SJ. Nationwide Trends and Future Projections of Diabetes and Diabetic Retinopathy Prevalence in Korea: Korean National Health and Nutrition Examination Survey Study. Journal of Korean Medical Science. 2026;41(3):e31
질병관리청 국가건강정보포털. 당뇨망막병증.
American Academy of Ophthalmology. Diabetic Retinopathy Preferred Practice Pattern®. Ophthalmology.
The Diabetes Control and Complications Trial Research Group. The effect of intensive treatment of diabetes on the development and progression of long-term complications in insulin-dependent diabetes mellitus. New England Journal of Medicine. 1993;329(14):977-986
DCCT/EDIC Research Group. Effect of intensive diabetes therapy on the progression of diabetic retinopathy in patients with type 1 diabetes: 18 years of follow-up in the DCCT/EDIC. Diabetes. 2015;64(2):631-642
The Diabetes Control and Complications Trial Research Group. Early worsening of diabetic retinopathy in the Diabetes Control and Complications Trial. Archives of Ophthalmology. 1998;116(7):874-886
UK Prospective Diabetes Study (UKPDS) Group. Intensive blood-glucose control with sulphonylureas or insulin compared with conventional treatment and risk of complications in patients with type 2 diabetes (UKPDS 33). The Lancet. 1998;352(9131):837-853
Early Treatment Diabetic Retinopathy Study Research Group. Photocoagulation for diabetic macular edema: ETDRS Report Number 1. Archives of Ophthalmology. 1985;103(12):1796-1806
The Diabetic Retinopathy Study Research Group. Photocoagulation treatment of proliferative diabetic retinopathy. (DRS Reports)
Wells JA, Glassman AR, Ayala AR, et al. Aflibercept, Bevacizumab, or Ranibizumab for Diabetic Macular Edema: Two-Year Results from a Comparative Effectiveness Randomized Clinical Trial. Ophthalmology. 2016;123(6):1351-1359
Gross JG, Glassman AR, Liu D, et al. Five-Year Outcomes of Panretinal Photocoagulation vs Intravitreous Ranibizumab for Proliferative Diabetic Retinopathy: A Randomized Clinical Trial. JAMA Ophthalmology. 2018;136(10):1138-1148